Gemerlap cahaya bintang di langit malam, di sebuah pedesaan yang letaknya jauh dari keramaian kota aku terpaku menatap indahnya suasana malam. Indahnya sinar redup dari lampu obor yang menyala di setiap sudut rumah-rumah penduduk menjadikan sebuah kehangatan yang menyelimutiku dari dinginnya angin malam. Sepi, lengang, tak ada satupun orang yang dapat kupandang. Pintu rumah-rumah di desa ini semua sudah tertutup, mungkin penghuninya sudah terlelap karena waktu sudah menunjuk pukul 11 malam. Suasana seperti ini membuatku jatuh ke dalam sebuah kenangan yang tak pernah dapat aku lupakan selama ini.
Kenangan pahit yang selama ini menghantui serasa semakin menyakitkan. Semua kejadian-kejadian diwaktu lampau itu terlihat jelas dibenakku. Ingin rasanya menghapus memory pahit yang pernah terjadi diwaktu dahulu. Tetapi semakin dilupakan, malah semakin teringat jelas semua tragedinya. Tragedi dikhianati oleh sahabat sendiri.
Kejadian itu terjadi pada 2 tahun lalu. Diwaktu aku masih duduk di bangku SMA, tepatnya di kelas 11. Aku memiliki seorang teman perempuan sebut saja namanya Risma. Dia adalah adik tingkatku. Sewaktu itu dia masih duduk di kelas 10, hanya berbeda 1 tahun denganku. Dia adalah sosok perempuan yang anggun, parasnya dapat dikatakan cantik. Banyak teman-temanya yang mengidolakan sosok Risma. Selain dia cantik, dia juga termasuk anak yang pintar dalam pelajaran. Risma menjadi anak emas dari banyak guru yang ada di sekolah kami. Perilakunya sangatlah sopan sehingga banyak guru yang sayang sama dia.
Hari demi hari telah terlampaui. Hubunganku dengan Risma semakin akrab, bak adik dengan kakaknya. Hari-hariku selalu ada Risma yang menemaniku. Hampir semua warung makan yang ada di sekitar sekolah telah kami singgahi. Jalanan di jogja semuanya pernah kami lalui. Banyak dari teman-teman kami yang menganggap hubunganku dengan Risma diikat dengan hubungan yang bernama “pacaran”. Tetapi kenyataannya tidaklah seperti itu. Selama ini kita menjalani hubungan yang disebut “persahabatan”. Semakin lama kita bersama ada persaan lain yang hinggap di pikiran dan di hatiku. Aku menafsirkannya sebagai rasa sayang terhadap adikku sendiri.
Sampai pada suatu hari seorang sahabatku ada yang berkeinginan untuk berkenalan dengan Risma. Sebut saja sahabatku ini Alex. Alex adalah teman sewaktu SMP dahulu. Sewaktu itu hubunganku dengan Alex amatlah akrab. Keakraban itu berlangsung sampai sekarang ini. Aku dan alex memang berbeda sekolah, tetapi tali persahabatan kami tidak pernah putus bahkan pudar. Kami masih sering pergi bersama, menyaksikan konser-konser bersama. Okelah, karena dia adalah sahabatku , akhirnya aku kenalkan dengan Risma yang sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. Risma menyambutnya dengan baik.
Semakin hari mereka semakin akrab. Hubunganku dengan Risma semakin renggang karena Risma semakin dekat dengan Alex. Selama ini hari-hariku selalu bersama dengan Risma seakan pudar seiring berjalannya waktu. Risma semakin sibuk jalan berdua dengan Alex. Aku merasa kesepian karena jarang sudah jarang Risma menemaniku. Awalnya aku merasa biasa saja. Tapi lama-kelamaan ada sesuatu yang mengganjal. Aku merasa tidak terima dengan kedekatan antara Risma dengan Alex. Harusnya aku mendukung kedekatan mereka. Tetapi tidak tahu mengapa aku merasa tidak terima dengan semua itu. Aku merasa Alex telah merebut Risam dari tanganku. Risma yang selama ini telah dekat denganku, telah bersama-sama denganku di tiap hari-hariku.
Pada suatu ketika aku mendengar kabar bahwa Alex dan Risma telah menjalin hubungan asmara. Tetapi dari mereka berdua tidak ada yang mau jujur. Mereka seakan lupa dengan keberadaanku. Mereka berdua seakan-akan menganggap aku seperti tidak ada. Sakit hati yang mendalam itulah yang aku rasakan. Oke fine, itu bukanlah masalah besar bagi diriku. Aku paham akan posisiku bukanlah siapa-siapa diantara mereka. Aku menganggap semua ini tidak pernah terjadi, walau rasanya berat.
Hari berganti begitu cepat dan saat ini pun aku sudah duduk di bangku kelas 12. Tidak terasa 1 tahun telah berlalu. Selama satu tahun ini aku jalani dengan beban berat tanpa ada Risma yang biasanya menghibur saat aku sedang sedih, selalu berbagi kebahagiaan, selalu berbagi beban pribadi masing-masing. Aku sudah terbiasa dengan kehidupanku selama 1 tahun ini. Aku sudah terbiasa menghabiskan waktu tanpa ada orang yang menemani.
Pada suatu saat Risma mendatangiku yang sedang makan di kantin sekolah. “Bima, aku boleh duduk di sampingmu?” dan aku mempersilahkannya duduk di bangku sebelah bangku yang kutempati. Dia datang dengan air mata yang bercucuran, dengan muka yang begitu murung. “Ada masalah apa Ris? Cerita dong sama aku”. Dia menceritakan semuanya. Ternyata Risma telah diputuskan oleh Alex pacarnya itu. Risma cerita dengan rasa kesal bercampur sedih. Air matanya tidak henti-hentinya mengalir. Risma merasakan sakit hati yang begitu mendalam seperti yang pernah aku rasakan sewaktu aku dianggap tidak ada oleh Alex dan Risma. Aku mencoba menenangkannya walaupun itu tidak ada artinya. Air matanya semakin deras mengalir di pipinya. Terisak-isak, tersedak-sedak, aku tidak sampai hati melihatnya.
Dengan terjadinya tragedy itu, aku semakin dekat lagi dengan Risma. Hampir setiap hari Risma selalu curhat. Entah di kantin, di warung dekat sekolah ataupun di rumahku atau di rumahnya. Aku dan Risma jadi sering jalan berdua walau hanya sekedar cari makan atau belanja. Kedekatanku yang sekarang ini memunculkan perasaan yang lebih. Entah cinta, entah hanya rasa sayang terhadap sahabat. Tetapi perasaan itu semakin kuat seiring berjalannya waktu. Risma juga seakan memendam perasaan yang sama seperti yang aku rasakan sekarang ini. Kedekatanku dengan Risma sudah seperti pengantin baru yang sedang berbulan madu. Dimana pun ada aku pasti ada Risma. Akhirnya aku memberanikan diri untuk mengungkapkan semua perasaanku kepada Risma. Dan ternyata Risma juga memiliki perasaan yang sama dengan yang aku rasakan. Pada akhirnya aku dan Risma menjalin hubungan asmara.
