Juni 20, 2012
TUSUKAN DI PANDANGAN PERTAMA
Cerpen acak2an ni. tapi ini hasil karyaku sendiri. selamat menikmati
Di tengah indahnya hamparan angin sore di pedesaan, aku selalu tersenyum menatapi mega yang semakin malam, semakin kelam. Indahnya langit sore mengantarku kealam khayal. Warna langit merah kekuningan, membuat hatiku merasa damai, tidak ada beban yang terasa. Tetapi, setelah langit mulai menghitam, keadaan berubah sangat drastis. Kepenatanku semua mulai terlahir kembali.
Hari-hariku yang kelam harus aku jalani lagi dikeesokan harinya. Huh, sangat berat menjalani hidup ini. Seperti tidak ada semangat untuk tetap bertahan hidup ditengah jerat dunia yang menjepit hela napasku.
Belajar, belajar dan belajar. Tugas, tugas dan penuh dengan tugas. Tugas yang harus selalu dikerjakan untuk mendapat nilai. Hanya untuk mendapat nilai. Aku merasa tidak ada guna lain dari tugas-tugas yang aku kerjakan.
“Nak, bangun. Udah pagi, mandi dan bersiap untuk kesekolah!” sayup-sayup yang terdengar dipagi hari dari mulut Ibuku saat mataku ini masih terasa berat untuk terbuka. “Iya bu, sebentar lagi. Masih kantuk sekali ini bu.” Jawabku dengan nada lirih. Aku lanjutkan tidur, karena aku merasa masih sangat kantuk.
Alarm berdetak begitu kencang sehingga membisingkan gendang telingaku. “Hah? Udah jam 7?” Aku kaget dan bergegas menuju kamar mandi untuk mandi dan bersiap ke sekolah. Ku tancap gas, dan segera beergegas kesekolah.
Gerbang sekolah ternyata sudah ditutup. Terpaksa menunggu sampai gerbang dibuka kembali. Ada seorang wanita yang penuh dengan senyuman, lewat tepat di depan tatapan mataku. Ingin sekali hati ini untuk bertanya “siapakah nama kamu?” Tapi sayang kami terpisah oleh rangkain besi yang memagari sekolah. Seandainya saja aku kenal dia, akan aku dekati dan kuraih hatinya.
“Teng, teng, teng”. Bel pertanda pergantian pelajaran telah berkumandang. Akhirnya pagar sekolah dibuka. Ku lihat kesana kemari, wanita itu sudah tidak ada. Aku berharap bisa berjumpa kembali. Walau untuk sebuah perkenalan.
Disaat pelajaran, aku hanya termenung dan memikirkan wanita tersebut. Sungguh tanda tanya sekali wanita itu. “Okta, kerjakan soal nomor dua dipapan tulis.” Aku sangat bingung sekali ketika guruku menyuruhku mengerjakan soal yang ada di papan tulis. Dengan tidak bermodalkan apapun, aku maju dan berusaha mengerjakan soal tersebut. “Maaf bu, saya tidak bisa mengerjakan soal ini.” Dengan raut wajah yang begitu bingung, aku berusaha berkata jujur. Tetapi, Bu Shanti tetap tidak peduli. Dan akhirnya aku disuruh keluar kelas dan tidak boleh mengikuti pelajarannya untuk hari ini.
Sendirian, di emperan kelas yang begitu lengang. Angin beritupan, membuatku kantuk. Ingin tidur rasanya. Mata perlahan mulai terpejam. Akhirnya aku tertidur di depan kelas.
“Bangun, bangun.” Kata-kata yang terdengar di telingaku di tengah tidurku. Aku terbangun. Saat mata terbuka, terpampang jelas sesosok wanita yang aku lihat di gerbang sekolah tadi. Hati dan pikiran mulai kacau. Dalam hatiku berkata, “ini mimpi atau nyata sih?”.
“Kamu tidur?” Suara lembut yang keluar dari wanita itu. “Iya ni. Ketiduran.” Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulutku. Dia memperkenalkan dirinya. Namanya Indah Wulansari. Nama yang cantik, sepeti orangnya. Lama, perbincangan yang terjadi antara aku dan Wulan. Di tengah perbincangan kita, gurunya Wulan lewat. Dan akhirnya Wulan dibawa ke ruang BP karena Wulan telah membolos dari pelajaran gurunya.
Aku merasa sangat bersalah. Karena Wulan membolos juga karena menemaniku. Aku berusaha menyusul Wulan keruang BP. Tetapi aku tidak boleh masuk. Aku disuruh kembali ke kelasku. Dengan hati yang penuh dengan rasa bersalah, aku melangkahkan kaki menuju kelas. Serba salah hidupku.
Setelah pulang sekolah, aku berniat untuk menghampiri Wulan untuk meminta maaf. Bergegaslah aku menuju kelasnya. Tetapi yang kudapati, Wulan ternyata sedang bermesraan dengan seorang lelaki. Dan ternyata lelaki itu adalah pacarnya. Sakit sekali hatiku. Cinta pada pandangan pertama yang aku rasakan harus berakhir dengan rasa sakit yang begitu mendalam.
Langganan:
Komentar (Atom)
