Kini aku sedang berada di masa kejayaan, masa yang paling indah, masa-masa muda. Banyak hal yang membuat masa-masa ini begitu berwarna. Dari canda hingga tangis, semua bersatu padu. Berlari kesana-kesini untuk menjemput sebuah tawa. Dan kadang berlari mencari tempat untuk mengadu demi menghilangkan kegundahan. Tidak jarang pula aku harus menyembunyikan tangis di antara senyum.
Tapi,ada sebuah penghalang untuk selalu tertawa, yaitu, menuntut ilmu dalam sebuah gedung sekolah. Rutinitas yang dianggap sebagian pelajar adalah membosankan. Rutinitas yang wajib aku jalankan demi menggapai masa depan yang cemerlang. Sering sekali rasa malas untuk ke sekolah itu muncul. Begitu pula dengan tugas-tugas yang diberikan oleh guru, malas sekali untuk mengerjakannya.
Aku sadar, masa-masa yang indah ini akan segera berakhir. Kebebasan yang sekarang aku dapatkan, akan segera berkurang. Tapi, aku berharap di sisa waktu masa mudaku, dapat aku gunakan sebaik mungkin. Akan aku ciptakan cerita-cerita yang akan selalu dikenang hingga detik-detik menjelang tutup usiaku. Sanga berat meninggalkan masa muda yang penuh cerita. Tapi hidup harus terus berlanjut. Tidak boleh terpaku di sini. Semoga ada kehidupan yang lebih indah dari sekarang.
September 09, 2012
Agustus 15, 2012
PENYIMPANGAN
Baru belajar membuat puisi. Harap dimaklumi jika terdapat salah kata-kata. Terima kasih :)
Zaman yang berujung retak
Kian kemari makin brutal
Makin tak terkendali
Gelap yang tercipta
Suci hanya cerita masa lampau
Hina adalah kawan masa kini
Semuanya berbau kotor
Semua meneriakkan dusta
Darah sudah menjadi tradisi
Asap telah menjadi karib
Alkohol mengendalikan segalanya
Dan, wanita jalang menjadi pujaan
Juni 20, 2012
TUSUKAN DI PANDANGAN PERTAMA
Cerpen acak2an ni. tapi ini hasil karyaku sendiri. selamat menikmati
Di tengah indahnya hamparan angin sore di pedesaan, aku selalu tersenyum menatapi mega yang semakin malam, semakin kelam. Indahnya langit sore mengantarku kealam khayal. Warna langit merah kekuningan, membuat hatiku merasa damai, tidak ada beban yang terasa. Tetapi, setelah langit mulai menghitam, keadaan berubah sangat drastis. Kepenatanku semua mulai terlahir kembali.
Hari-hariku yang kelam harus aku jalani lagi dikeesokan harinya. Huh, sangat berat menjalani hidup ini. Seperti tidak ada semangat untuk tetap bertahan hidup ditengah jerat dunia yang menjepit hela napasku.
Belajar, belajar dan belajar. Tugas, tugas dan penuh dengan tugas. Tugas yang harus selalu dikerjakan untuk mendapat nilai. Hanya untuk mendapat nilai. Aku merasa tidak ada guna lain dari tugas-tugas yang aku kerjakan.
“Nak, bangun. Udah pagi, mandi dan bersiap untuk kesekolah!” sayup-sayup yang terdengar dipagi hari dari mulut Ibuku saat mataku ini masih terasa berat untuk terbuka. “Iya bu, sebentar lagi. Masih kantuk sekali ini bu.” Jawabku dengan nada lirih. Aku lanjutkan tidur, karena aku merasa masih sangat kantuk.
Alarm berdetak begitu kencang sehingga membisingkan gendang telingaku. “Hah? Udah jam 7?” Aku kaget dan bergegas menuju kamar mandi untuk mandi dan bersiap ke sekolah. Ku tancap gas, dan segera beergegas kesekolah.
Gerbang sekolah ternyata sudah ditutup. Terpaksa menunggu sampai gerbang dibuka kembali. Ada seorang wanita yang penuh dengan senyuman, lewat tepat di depan tatapan mataku. Ingin sekali hati ini untuk bertanya “siapakah nama kamu?” Tapi sayang kami terpisah oleh rangkain besi yang memagari sekolah. Seandainya saja aku kenal dia, akan aku dekati dan kuraih hatinya.
“Teng, teng, teng”. Bel pertanda pergantian pelajaran telah berkumandang. Akhirnya pagar sekolah dibuka. Ku lihat kesana kemari, wanita itu sudah tidak ada. Aku berharap bisa berjumpa kembali. Walau untuk sebuah perkenalan.
Disaat pelajaran, aku hanya termenung dan memikirkan wanita tersebut. Sungguh tanda tanya sekali wanita itu. “Okta, kerjakan soal nomor dua dipapan tulis.” Aku sangat bingung sekali ketika guruku menyuruhku mengerjakan soal yang ada di papan tulis. Dengan tidak bermodalkan apapun, aku maju dan berusaha mengerjakan soal tersebut. “Maaf bu, saya tidak bisa mengerjakan soal ini.” Dengan raut wajah yang begitu bingung, aku berusaha berkata jujur. Tetapi, Bu Shanti tetap tidak peduli. Dan akhirnya aku disuruh keluar kelas dan tidak boleh mengikuti pelajarannya untuk hari ini.
Sendirian, di emperan kelas yang begitu lengang. Angin beritupan, membuatku kantuk. Ingin tidur rasanya. Mata perlahan mulai terpejam. Akhirnya aku tertidur di depan kelas.
“Bangun, bangun.” Kata-kata yang terdengar di telingaku di tengah tidurku. Aku terbangun. Saat mata terbuka, terpampang jelas sesosok wanita yang aku lihat di gerbang sekolah tadi. Hati dan pikiran mulai kacau. Dalam hatiku berkata, “ini mimpi atau nyata sih?”.
“Kamu tidur?” Suara lembut yang keluar dari wanita itu. “Iya ni. Ketiduran.” Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulutku. Dia memperkenalkan dirinya. Namanya Indah Wulansari. Nama yang cantik, sepeti orangnya. Lama, perbincangan yang terjadi antara aku dan Wulan. Di tengah perbincangan kita, gurunya Wulan lewat. Dan akhirnya Wulan dibawa ke ruang BP karena Wulan telah membolos dari pelajaran gurunya.
Aku merasa sangat bersalah. Karena Wulan membolos juga karena menemaniku. Aku berusaha menyusul Wulan keruang BP. Tetapi aku tidak boleh masuk. Aku disuruh kembali ke kelasku. Dengan hati yang penuh dengan rasa bersalah, aku melangkahkan kaki menuju kelas. Serba salah hidupku.
Setelah pulang sekolah, aku berniat untuk menghampiri Wulan untuk meminta maaf. Bergegaslah aku menuju kelasnya. Tetapi yang kudapati, Wulan ternyata sedang bermesraan dengan seorang lelaki. Dan ternyata lelaki itu adalah pacarnya. Sakit sekali hatiku. Cinta pada pandangan pertama yang aku rasakan harus berakhir dengan rasa sakit yang begitu mendalam.
Mei 01, 2012
SEBISANYA
Berawal dari tidak ada kerjaan, sebuah coret-coretan ini tercipta.Entah apa yang terpikir, tangan ini dengan sendirinya mulai menggores goresan pensil tipis diatas kertas putih polos. Entah apa yang terlintas di pikir, sosok wanita ini yang menjadi modelnya. Hampir 3 jam lamanya untuk dapat menyelesaikan bagian wajahnya, wajahnya doang, belum yang lain. Sempat putus asa juga, karena susah sekali saat melukis bagian wajah. Karena rasa penasaran, akhirnya aku lanjutin mencoret-coret dan dalam waktu kurang lebih 7 jam sebuah coret-coretan yang jauh dari sempurna ini tercipta. Maaf, untuk model kalau wajahnya jadi kayak badut gini. Pembuat nggak ngerti tekhnik melukis wajah sama sekali soalnya. Tapi bagaimanapun hasilnya aku tetap bangga dan sangat puas. Karang isone yo mung koyo ngene.
Maret 01, 2012
Tahun Baru
menjejaki masa penuh warna
mengubur kelabu yang telah berlalu
hanya menyisakan segelintir senyum
dan telah menghujankan jutaan butir air mata
ini tahun barumu
derap langkahmu haruslah tetap bertapak
walau terseok-seok menyusuri jalan berkelok
terhempas topan bertiup semilir
tetap tegar tanpa menepi
jadilah terang dalam gelapmu
teruslah bersinar hingga waktu menggulitakan
hingga tak ada lagi tawa diantara suka
tak ada tangis dibalik duka
ini adalah sebuah puisi yang aku buat sendiri. puisi ini dibuat pada tanggal 10 februari 2012
Langganan:
Komentar (Atom)



