Desember 11, 2011
Ini Hidupku, Ini Kreasiku
Dari satu sudut sampai arah yang lainnya semua sama, rata, omong kosong belaka. Perkataan satu dan yang lain serupa, tak dapat dicerna oleh indra. Membusungkan dada layaknya jagoan, tapi di sisi lain terpampang jelas rupa aslinya. Omong kosong yang hanya berupa celaan. Tak mampu menyentuh sedikitpun organku. Tarik kembali perkataan kalian yang sempat terlontar. Persetan dengan kata kalian yang berujung menghujat dan menjatuhkan. Karena ini hidupku, ini kreasiku, dan itu hidupmu, kita saling menghargai tanpa memandang tinggi rendahnya. Seburuk-buruknya itu, hargai dan aku pun akan melakukan hal tak berbeda.
Desember 03, 2011
Merindukan Terang
Aku buta arah, bangunan menjulang tinggi tak kasatmata. Apalagi untuk melihat kerikil yang berserakan di sapanjang jalan, itu sangat mustahil. Tersandung, terjatuh, terperosok sudah seperti kawan yang menemani hari-hari. Berasa hidup hanya setengah badan, yang setengahnya lagi “mati”.
Jauh dari dekapan Tuhan faktor terbesarnya. Selalu mengesampingkan ibadah hanya untuk rutinitas duniawi. Seperti beragama tanpa memandang keberadaan Tuhan. Agama hanya semacam label yang melekat, yang mengindahkan diri tanpa terlihat sisi hitamnya. Aku berharap semua ini TIADA, tapi yang terjadi NYATA.
Sudah terlalu jauh aku terseret arus kesesatan, arusnya semakin ke sini semakin deras. Tuhan, aku minta pengampunanMu, aku memohon bimbingan dariMu, aku ingin dipulihkan dari keterpurukan hidup, aku hanya ingin kembali ke jalanMu, aku hanya ingin berjalan menuju Istana KerajaanMu di Surga, itu semua akan menjadi nihil tanpa tuntunanMu.
Semoga ini bukan hanya omong kosongku, tapi benar-benar pengharapanku.
Jauh dari dekapan Tuhan faktor terbesarnya. Selalu mengesampingkan ibadah hanya untuk rutinitas duniawi. Seperti beragama tanpa memandang keberadaan Tuhan. Agama hanya semacam label yang melekat, yang mengindahkan diri tanpa terlihat sisi hitamnya. Aku berharap semua ini TIADA, tapi yang terjadi NYATA.Sudah terlalu jauh aku terseret arus kesesatan, arusnya semakin ke sini semakin deras. Tuhan, aku minta pengampunanMu, aku memohon bimbingan dariMu, aku ingin dipulihkan dari keterpurukan hidup, aku hanya ingin kembali ke jalanMu, aku hanya ingin berjalan menuju Istana KerajaanMu di Surga, itu semua akan menjadi nihil tanpa tuntunanMu.
Semoga ini bukan hanya omong kosongku, tapi benar-benar pengharapanku.
Oktober 30, 2011
Memandang yang Semestinya dipandang
Bukan cuma pisau atau pedang yang bisa nusuk. Hanya beberapa kalimat saja bisa nusuk. Tusukannya lebih dalam dari tusukan sajam manapun. Lebih sakit! Nyesek senyesek-nyeseknya. Mungkin ini akhir dari segalanya. Akhir dari penantian. Akhir dari sebuah kisah. “Cukup” adalah satu-satunya kata yang pantas melintas dipikiran.
Nggak akan untuk kedua kalinya terpaku di satu posisi. Terpaku diharapan kosong. Terdiam disaat yang lain berlari. Butuh sesuatu untuk memicuku agar dapat mengejar mereka. Agar dapat mengejar segalanya yang sudah semestinya menjadi hakku.
Masa lalu ya masa lalu! Masa lalu sudah seharusnya di albumkan dan dihiasi bingkai-bingkai bertabur emas. Tidak akan pernah menelantarkan kenangan-kenangan yang pernah mengisi hari-hariku. Karena bagiku masa lalu adalah jembatan menuju masa depan. Makasih untuk semua pihak yang berkenan mengisi kanvas ini yang dulu nya putih tak bernoda menjadi KANVAS PENUH WARNA
Oktober 28, 2011
Ketakutan yang Bertahta
Buruk, sangat buruk. Seperti tidak bisa tertuang dalam kata. Tertawa dalam ketakutan. Terbuai pahitnya suasana. Terdiam tak percaya. Sesuatu banget! Momen yang tidak pernah diharapkan setiap orang, terjadi. Tepat diarah bola mata memandang. Hanya puluhan centimeter dari tempatku berpijak. Singkat, tak bertele-tele. Bekasnya lebar, luas, tak terhitung oleh mesin hitung. Entah apa yang akan terjadi esok. Berharap kenyataan berpihak padaku
Oktober 27, 2011
Bertabur Hujatan
Nyaris tak pernah terbayang olehku. Berlabuh ke tempat penuh duri. Berjalan menyusuri jutaan serpihan kaca berserakan. Mulai berat kaki untuk dilangkahkan. Mulai tak berdaya untuk lebih melaju. Berusaha berlari sekencang-kencangnya walau tetes demi tetes darah mengucur diseluruh titik. Mencoba memulihkan segala yang pernah termiliki. Hanya berharap tercapainya sebuah harapan terbebas dari perihnya duri yang menusuk
Oktober 25, 2011
Pemikiran si Bodoh
Pandangan hitam kelam, pikiran meregah. Kemalasan sebagai piranti mengisi waktu yang tak tentu akhirnya. Bersenda gurau dengan bangsat-bangsat yang bangga akan dosa. Ruang terpampat setan akhir zaman yang berbaur dengan orang-orang keji. Hasrat bebal meronta-ronta ingin terlepas dari penindasan yang tak berbelas kasih
Oktober 24, 2011
Masa Kehancuranku (kelas XI)
Saat kenaikan kelas aku udah bersemangat untuk meniati hari2 di kelas XI. walapun aku tahu kelas XI itu masa dimana kehancuran seorang pelajar terjadi. tapi itu tidak mengurungkan niat saya. satu bulan berjalan niat itu masih tertanam. tapi lama kelamaan niat itu semakin memudar. nah.. dua bulan setelah kenaikan kelas niat yang tadinya membara sekarang telah terbakar dan tak bersisa. nilai2 jadi hancur, tugas banyak yang nggak dikerjain, sering keluar kelas pas pelajaran, tapi nggak sampek mbolos lo. sebenernya sih ya ada keinginan untuk mbolos. tapi kasian orang tua, mereka udah ngebayarin sekolah mahal2. udah cukup untuk malas2an. waktunya bangkit dan mengakhiri masa kehancuran sebelum masa depan ikut ancur. TOBAT AH..
Terpenjara Tanpa Terali
Entah apa yang terjadi pada diriku ini. Hari-hari ku lalui dengan semangat yang semakin menciut. Entah faktor sekolah, entah faktor keluarga, entah faktor apapun itu yang mempengaruhi ini semua. Aku muak dengan semua keadaan yang memenjarakan diriku. Terpenjara tanpa ada terali yang menghalangi. Di depan mata luas tanpa batas, tapi di hati sungguh tertekan.
OPO TO IKI? RA CETO TENAN LEK!
Langganan:
Komentar (Atom)
